Nusantara Melirik Baduy
Tiennews.com,-,-Jum’at pagi sekira pukul 8.20 Wib. Dua bus rombongan Persatuan Wartawan Indonesia(PWI) Pusat memasuki kawasan Alun-alun timur kota Rangkasbitung, dalam bus tersebut terdapat sekitar 45 orang terdiri dari empat pengurus PWI Pusat dipimpin oleh Ketua Departemen Seni, Musik, Film dan Budaya yaitu Ramon Damora, serta 41 peserta kemah budaya. Wajah mereka penuh keceriaan saat turun dari bus. Beberapa menit kemudian, rombongan berisikan wartawan, sastrawan dan budayawan itu langsung disambut oleh Sekertaris PWI Banten, Fahdi Khalid, untuk memasuki tempat pembukaan acara Kemah Budaya yang bertempat di pendopo Museum Multatuli yang notabene merupakan ikon wisata tengah kota dan berada tepat di jantung kota Rangkasbitung.
Sekertaris PWI Banten, Fahdi Khalid memiliki postur tubuh yang subur, lantaran punya berat badan 102 Kg itu terlihat sangat lincah dan cekatan menerima serta mengatur semua rangkaian acara. Mohon maaf, ini hanya sekedar Disclaimer dari penulis saja, bukan Body shamming, kepada Sekertaris PWI Banten. Tapi memang, sosoknya dikenal lincah, cekatan serta tak kalah produktif dengan teman-teman wartawan yang memiliki postur ramping, dan itu diakui oleh semua pengurus PWI Banten.
Saya sampai terkagum-kagum dengan acara Kemah Budaya ini. Karena sempat terlintas dalam batin sebuah pertanyaan, kok bisa event tingkat nasional PWI Pusat diselenggarakan di Kabupaten Lebak? Secara menurut penilaian penulis, sangat jarang kegiatan tingkat nasional kewartawanan digelar di tanah Multatuli. Jika tidak salah baru kali ini event sebagus ini Lebak menjadi tuan rumah.
Namun sedikit demi sedikit pertanyaan itu mendapatkan jawaban sendiri dari pengurus Persatuan Wartawan Indonesia(PWI) Pusat terutama dari Ramon Damora. Ya, dalam sambutannya pria berbadan atletis tersebut menjelaskan kronologis kenapa kegiatan Kemah Budaya ini dilakukan di Kabupaten Lebak.
Dalam sambutannya pada acara seremonial penerimaan Kemah Budaya, Ramon Damora menjelaskan jika awal mula terselengaranya acara ini dalam rangka acara Hari Pers Nasional(HPN) tahun 2026 di Provinsi Banten. Karena itu PWI Pusat mengelar berbagai rangkaian acara guna memeriahkan, salah satunya adalah dengan menggelar Kemah Budaya. Acara ini kata dia, merupakan tonggak sejarah, karena selama perhelatan HPN digelar beberapa puluh kali, baru kali ini ada acara Kemah Budaya. Berdasarkan penilaian itulah, panitia menunjuk Baduy sebagai pusat kegiatnnya.
Penunjukan Baduy sebagai tempat Kemah Budaya bukanlah tanpa sebab. Akan tetapi Baduy merupakan sebuah kawasan wisata budaya yang sudah terkenal se-mancanegara sebagai daerah yang memegang teguh adat istiadat, sehingga patut dijadikan tempat Kemah Budaya PWI Pusat.
Bak gayung bersambut, penunjukan kawasan Baduy sebagai lokasi Kemah Budaya rupanya mendapatkan respon yang postitif. Karena menurut Plt Asisten Daerah (Asda) lll Pemkab Lebak, Dr Iyan Fitriyana, pihaknya mengapresiasi PWI Pusat yang telah memilih Baduy sebagai lokasi Kemah Budaya. Menurutnya, kegiatan itu sejalan dengan upaya pelestarian budaya lokal sekaligus penguatan peran pers yang beretika dan berwawasan budaya.
Bahkan, saking semangatnya, Plt Asda lll Pemkab Lebak itu curhat dan melontarkan pengharapan. Ya, dalam selipan sambutannya, Dr Iyan mengharapkan agar Pemkab Lebak mendapatkan kucuran dana afirmasi infrastruktur dari pemerintah pusat. Hal itu dikarenakan peran Kabupaten Lebak sebagai kawasan penyangga ekologis bagi Jakarta dan Banten.
“Saya berterima kasih kepada PWI Pusat, karena telah menunjuk Baduy sebagai lokasi Kemah Budaya. Karena itu, mangga, silahkan manfaatkan apapun yang ada di kawasan Baduy untuk di eksplor, dan sampaikan hasilnya kepada masyarakat luas di luar Lebak, tapi tentu laporan hasil kemah budaya-nya jangan yang bertentangan dengan adat istiadat yang ada di Baduy,”kata Dr Iyan.
Sesuai acara seremonial tersebut, penulis sempat menerima daftar peserta dari Sekertaris PWI Banten. Melihat nama-nama peserta serta daerah asalnya, penulis berdecak kagum, karena melihat daftar peserta benar-benar dari berbagai penjuru daerah, mulai dari Tangerang, Jakarta, Bogor, Lampung, Palembang, Surabaya hingga Samarinda.
Saat melihat daftar tersebutlah, saya kemudian dikenalkan dengan panitia dari PWI Pusat oleh Sekertaris PWI Banten. Sosok yang dikenalkan itu bernama Kunni Mashrohati, koordinator Kemah Budaya yang imut dan enerjik. “Saya Entin, wartawati anggota PWI Lebak,”kata saya memperkenalkan diri.
Jujur sampai detik itu, tugas saya hanya diminta mendampingi Sekertaris PWI Banten selama kegiatan berlangsung. Itupun entah dasar apa pak Seketaris meminta saya untuk mendampinginya, meski saya tahu jika Pak Akew (Panggilan akrab sekertaris PWI Banten) selalu mengajak saya dalam berbagai kegiatan PWI yang dilakukan di Kabupaten Lebak, dikarenakan saya gampang dimarahin dan tak pernah baper jika dimarahin saat tugas meleset.
Saya meyakini jika Pak Akew memarahi anggota bukan karena benci, akan tetapi sebagai bentuk mendidik karakter anggota agar serius dalam melaksanakan tugas yang telah diamanahkan kepada anggota. Karena itu saya khatam dengan sikap beliau, sebab sebelum beliau menjadi Sekertaris PWI Banten, ia adalah Ketua PWI Kabupaten Lebak dua periode.
Kembali ke Ibu Kunni yang cantik, ia malah menawarkan saya menjadi peserta Kemah Budaya, dengan ketentuan harus mematuhi perarturan, diantaranya harus menulis feature hasil liputan selama di Baduy. Tanpa berpikir panjang, saya mengiyakan ajakan ibu Kunni.
Soal tugas feature inilah saya kemudian mengambil angle tentang sikap dan prilaku para peserta. Bagaimana peserta menilai Baduy? Bagaimana kesan selama di Baduy? Apasaja pengalaman dan pengetahuan yang didapat di Baduy? Pokoknya seputar itulah, sehingga kemudian saya menjadikan judul berita Feature itu adalah Nusantara Melirik Baduy, yang mana pengambilan judul ini dilatarbelakangi oleh pandangan dari wartawati, budayawan, sejarawan se-indonesia yang menjadi peserta.
Kehidupan masyarakat Suku Baduy menjadi daya Tarik tersendiri. Keteguhan warganya memegang adat istiadat menjadi pelajaran berharga bagi peserta, semisal yang dikatakan oleh Novi Balga dari perwakilan PWI Lampung, dia mengaku jika kedatangannya ke Baduy merupakan obesesinya, kebetelulan kata dia, keinginnanya ke Baduy dapat terlaksana karena ada acara Kemah Budaya dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional(HPN)tahun 2026 di Banten. Bahkan ia menyebut jika dirinya merasa antusias dan bisa dikatakan dream come true. Diluar sana Novi mengetahui jika kabar perempuan Baduy itu cantik-cantik, dan setelah melihat langsung ternyata kabar tersebut benar adanya.
Tak berhenti sampai disitu, ia pun menelisik penyebab perempuan Baduy cantik-cantik dikarenakan mereka mandinya langsung dari mata air. Terlebih lagi, kecantikan wanita Baduy itu ditunjang dengan keramahannya, karena mereka dengan ramah penuh dengan sopan santun melayani tamu yang datang. Keindahan alam Baduy pun menjadi sorotan Novi, karena memiliki lingkungan asri, damai dan tentram. Intinya kata Novi, ia terpana dengan keindahan serta nuansa alam yang ada di Baduy, sebagai oleh oleh cindera mata-pun dia membeli seperangkat kain tenun Baduy lengkap dengan baju hasil rajutan wanita Baduy.
Hal yang sama dikatakan oleh Diah Susilawati, peserta dari Bogor, Jawabarat yang merupakan seorang sastrawan. Ia menilai acara Kemah Budaya ini sangat keren, lantaran selama berada di Baduy ia banyak belajar tentang kehidupan, ia bisa berbaur dan menginap diperumahan milik warga Baduy. Saat menginap tersebut ia merasakan sensasi yang luar biasa, sehingga ia merekomdasikan kepada semua orang yang belum pernah datang berkunjung ke Baduy, maka wajib mencoba datang berkunjung.
Sedari awal kegiatan sampai akhir, penulis melihat para peserta sangat antusias dan penuh keceriaan, lelah, cape, penat sampai mobil mogok ditanjakan tak mereka rasakan. Mereka malah bernyanyi riang gembira meski harus menanjak jalan beraspal, karena , mobil bus yang mereka tumpangi tidak bisa menanjak, sehingga semua peserta harus turun terlebih dahulu.
Penulis adalah Suliastini, wartawan Tiennews.Com
Pemegang kartu UKW Muda dengan nomor 16254-PWI/WDa/DP/Vll/2019/05/11/67
Pemegang kartu PWI Biasa nomor 31.00.21055.22B
